Minggu, 19 Juni 2011

Silsilah marga SIMATUPANG khususnya SIBURIAN

TAROMBO BATAK

Tarombo Batak ialah silsilah garis keturunan
secara patrilineal dalam suku bangsa Batak. Sudah
menjadi kewajiban bagi masyarakat suku bangsa
Batak untuk mengetahui silsilahnya agar
mengetahui letak hubungan kekerabatan
terkhusus dalam falsafah Dalihan Natolu.
Raja Batak dan
keturunannya
Tarombo si Raja Batak (silsilah garis keturunan
suku bangsa Batak) dimulai dari seorang individu
bernamaRaja Batak.
Si Raja Batak berdiam di lereng Pusuk Buhit,
Sianjur Mulamula, namanya. Sehingga wilayah/
lereng Pusuk Buhit dapat dikatakan sebagai
daerah asal-muasal suku bangsa Indonesia,
Batak, yang kemudian menyebar ke berbagai
pelosok, baik Indonesia maupun dunia.

Si Raja Batak mempunyai 2 (dua) orang putera,
yaitu:
1. Guru Tatea Bulan (Naimarata)
2. Raja Isumbaon

Guru tatea bulan
Guru Tatea Bulan mempunyai 5
(lima) orang putera, yaitu:

1. Raja Biakbiak
2. Saribu Raja
3. Limbong Mulana
4. Sagala Raja
5. Silau Raja

Raja Biakbiak
Raja Biakbiak adalah putera sulung Guru Tatea
Bulan.
Raja Biakbiak atau juga disebut dengan Raja Uti
tidaklah mempunyai keturunan.

Saribu Raja
Saribu Raja adalah putera kedua Guru Tatea
Bulan.
Saribu Raja mempunyai 2 (dua) orang putera
yang dilahirkan oleh 2 (dua) isteri. Isteri pertama
Saribu Raja adalah Siboru Pareme yang
melahirkan Raja Lontung dan isteri kedua Saribu
Raja adalah Nai Mangiring Laut yang melahirkan
Raja Borbor.

Raja Lontung
Raja Lontung mempunyai 7 (tujuh) orang putera,
yaitu:
1. Sinaga, menurunkan marga Sinaga dan cabang-
cabangnya
2. Situmorang, menurunkan marga Situmorang
dan cabang-cabangnya
3. Pandiangan, menurunkan Perhutala dan Raja
Sonang dan cabang-cabangnya
4. Nainggolan, menurunkan marga Nainggolan dan
cabang-cabangnya
5. Simatupang, menurunkan marga Togatorop,
Sianturi dan siburian

6. Aritonang, menurunkan marga Ompu Sunggu,
Rajagukguk, dan Simaremare
7. Siregar, menurunkan marga Siregar dan cabang-
cabangnya

Raja Borbor
Keturunan Raja Borbor membentuk rumpun
persatuan yang disebut dengan Borbor yang
terdiri dari marga Pasaribu, Batubara, Harahap,
Parapat, Matondang, Sipahutar, Tarihoran,
Saruksuk, Lubis, Batubara, Pulungan, Hutasuhut,
Tanjung serta Daulay.

Limbong Mulana
Keturunan Limbong Mulana sebagai putera ketiga
Guru Tatea Bulan, hingga kini tetap memakai
marga Limbong

Sagala Raja
Keturunan Sagala Raja sebagai putera keempat
Guru Tatea Bulan tetap memakai marga Sagala.

Silau Raja
Silau Raja sebagai putera bungsu Guru Tatea
Bulan menurunkan marga Malau dan cabang-
cabangnya.

Raja Isumbaon

Raja Isumbaon adalah putera kedua/bungsu Raja
Batak. Raja Isumbaon mempunyai 3 (tiga) orang
putera, yaitu:
1. Tuan Sorimangaraja
2. Raja Asiasi
3. Sangkar Somalidang
Khusus keturunan Raja Asiasi dan Sangkar
Somalidang hingga saat ini belum diketahui pasti
siapa keturunan mereka. Ada yang berpendapat,
Sangkar Somalidang sekaligus Sangkar Sobaoa.
Pengertian "sangkar sobaoa" ialah sesungguhnya
laki-laki namun sifat-pembawaannya perempuan,
atau banci. Sedang Raja Asiasi dikatakan berkelana
("adventure") ke Aceh.

Tuan Sorimangaraja
Tuan Sorimangaraja mempunyai 3 (tiga) orang
putera, yaitu:
1. Raja Tuan Nabolon, lahir dari isteri Sorimangaraja,
Nai Ambaton (nama kecil, Boru Paromas/Boru
Antingantingsabungan)
2. Datu Pejel/ Tuan Sorbadijae, lahir dari isteri
Sorimangaraja, Nai Rasaon (nama kecil, Boru
Bidinglaut)
3. Tuan Sorbadibanua, lahir dari isteri
Sorimangaraja, Nai Suanon/Nai Tungkaon (nama
kecil, Boru Parsanggul Haomasan)
Ambaton)dan Nairasaon (seharusnya/aslinya Nai
Rasaon)tidak didahului kata "Raja". Barangkali,
yang dimaksud "raja" ialah pomparannya yang
LAKI-LAKI. Karena keduanya adalah Ibu. Maka
seharusnya ada pertukaran letak suku kata, bukan
"pomparan raja naiambaton atau nairasan" tetapi
seharusnya adalah "raja pomparan ni nai
ambaton" atau raja pomparan ni nai rasaon" dan
seterusnya. Kata "Nai" dalam bahasa Batak asli
adalah pemanggilan (semacam "gelar"). Karena
kata Nai bagi seorang ibu dan kata "Amani" bagi
seorang bapak menunjukkan bahwa mereka naik
setingkat dalam status sosial bermasyarakat
dalam arti ibu dan bapak yang bersangkutan
sehari-hari dipanggil dengan nama anak pertama,
lepas dari laki atau perempuan. Namun kepada
sang bapak, didepan nama anak-pertama tsb
ditambahkan "Amani", semisal anak pertama tsb
ialah si Bunga, maka si bapak dipanggil sehari-
hari, "Amani Bunga". Sementara si ibu sehari-hari
dipanggil "Nai Bunga", karena anak-pertama dari
perkawinan mereka berdua diberi nama si Bunga.
Ditempat kelahiran saya, Peajolo, Desa Maduma -
Simanindo (p. Samosir) hal ini dianggap sangat
elementer, namun sangat penting dlm etika
berbicara & berkomunikasi. Orang yang
memanggil merasa menghormati dan orang
yang dipanggil merasa dihormati, jika dipanggil
dengan panggilan "gelar" tersebut. Bagi kita yang
sudah hidup dikota, kita dipanggil dengan nama
kecil kita, tidak masalah. Lain halnya dengan
masyarakat di kampung halaman yang masih
terikat dengan tradisi-tradisi lama secara turun-
temurun. Masyarakat di kampung akan merasa
plong, bebas dan nyaman memanggil nama
menggunakan gelar tersebut.

Raja Nai Ambaton

Keturunan Raja Naiambaton dikenal sebagai
keturunan yang terdiri dari berpuluh-puluh marga
yang tidak boleh saling kawin (ndang boi
masiolian). Kumpulan persatuan rumpun
keturunan Raja Naiambaton disebut dengan
PARNA (Parsadaan Raja Nai Ambaton). Catatan:
huruf R dalam kata PARNA bukan representasi
'raja', tapi PAR=Parsadaan ("persatuan"), NA=Nai
Ambaton.
Marga-marga keturunan Raja Naiambaton, antara
lain: Simbolon, Tamba, Saragi, Munte. Dan
cabang-cabangnya:
1. Simbolon Tua (Simbolon, Tinambunan,
Tumanggor, Turutan, Pinayungan, Maha,
Nahampun)
2. Tamba Tua (Tamba, Sidabutar, Sijabat, Siadari,
Sidabalok)
3. Munte Tua (Munte, Sitanggang, Sigalingging)
4. Saragi Tua (Sidauruk, Saing, Simalango,
Simarmata, Nadeak, Sidabungke, Rumahorbo,
Sitio, Napitu)
Nai Rasaon
Nai Rasaon adalah kelompok marga-marga dari
suku bangsa Batak Toba yang berasal dari daerah
Sibisa. Marga-marga keturunan Nai Rasaon,
adalah: Manurung, Sitorus (menurunkan Pane,
Dori, Boltok), Sirait, Butarbutar. MANURUNG
menurunkan HUTAGURGUR HUTAGAOL dan
SIMANORONI. Dari Ibu, Nai Rasaon {nama kecil: si
Boru Bidinglaut, Isteri II Ompu Tuan
Sorimangaraja (S-3)/Anak no. 2 Ompu Raja
Isumbaon (S-2)} beranak satu, yaitu Datu Pejel/
Ompu Tuan Sorbadijae. (S=S/sundut; S-1 adalah
si Raja Batak). Datu Pejel, dua anaknya sekali lahir
(kembar-dua), namun tidak sebagaimana
umumnya lahir kembar secara satu per satu,
melainkan lahir kembar-dua didalam satu
"lambutan". Yang dimaksud lambutan, barangkali
adalah jaringan selaput yang membungkus bayi
ketika didalam kandungan. Pada waktunya yang
tepat dikemudian hari diberi nama: Raja
Mangarerak dan Raja Mangatur si "Dua-sahali
tubu". Pomparan Raja Toga Manurung
berkembang dari Raja Mangarerak; Sementara
pomparan Raja Toga Sitorus, Raja Toga Sirait dan
Raja Toga Butarbutar berkembang dari Raja
Mangatur. Meski empat marga ini sesungguhnya
berasal dari satu Ompu, Datu Pejel, namun
umumnya, berawal dari wilayah Porsea ke-
empat marga ini sudah saling kawin-mawin.
Maka prinsip satu keluarga besar "na so boi mar-
si-oli-an" telah memudar. Proses ini diperkirakan
sudah dimulai sejak 5 - 6 generasi sebelum
generasi yang sekarang, atau kira-kira 200 tahun
yl. Sedang diwilayah asal/asli Sibisa dan Ajibata
perasaan bersaudara itu masih kental. Namun
khususnya diwilayah Ajibata, antara Sirait dan
Manurung, pada generasi yang sekarang, telah
ada yang memulai kawin-mawin. Sementara
antara Sirait terhadap Sitorus dan Butarbutar
belum ada yang memulai. Tetapi didaerah
perantauan, misalnya di p. Jawa telah ada yang
merintis.

Tuan Sorbadibanua
Tuan Sorbadibanua mempunyai 8 (delapan)
putera, yaitu:
1. Sibagotnipohan
2. Sipaettua(Pangulu Ponggok, Partano Nai
Borgin,Puraja Laguboti(Pangaribuan,Hutapea)
3. Silahi Sabungan
4. Raja Oloan
5. Raja Hutalima
6. Raja Sumba
7. Raja Sobu
8. Raja Naipospos
Sibagotnipohan Sibagotnipohan sebagai cikal-
bakal marga Pohan mempunyai 4 (empat)
putera, yaitu:
1. Tuan Sihubil, sebagai cikal-bakal marga
Tampubolon dan cabang-cabangnya
2. Tuan Somanimbil, sebagai cikal-bakal marga
Siahaan, Simanjuntak, dan Hutagaol
3. Tuan Dibangarna, sebagai cikal-bakal marga
Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar, dan cabang-
cabangnya
4. Sonak Malela, menurunkan marga
Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, dan
Pardede
Sipaettua Marga-marga keturunan Sipaettua,
antara lain: Hutahaean, Hutajulu, Aruan, Sibarani,
Sibuea, Sarumpaet, Pangaribuan, dan
Raja Silahi Sabungan Sesuai dengan prasasti
yang terdapat di Tugu Makam Raja Silahi
Sabungan di Silalahi Nabolak bahwa Raja Silahi
Sabungan memiliki 8 Anak dan 1 Putri dari 2 (Dua)
istri yakni :
Istri Pertama berasal dari Pakpak Dairi bernama
Pingganmatio Padangbatangari, putri semata
wayang Raja Parultep atau Padangbatangari,
anaknya: 1Lohoraja
(Sihaloho,Haloho,Silalahi,Sembiring,Keloko) 2
Tungkirraja (Situngkir,Sipangkar,Sipayung) 3
Sondiraja
(Rumasondi,Rumasangap,Silalahi,Naiborhu,Sinurat,Nadapdap,Dolok
Saribu,) 4Butarraja (Sidabutar,Silalahi) 5
Dabaribaraja (Sidabariba,Silalahi) 6 Debangraja
(Sidebang,Silalahi) 7 Baturaja (Pintu
Batu,Sigiro,Silalahi)
Dan seorang putri yang bernama Deang
Namora
Istri Kedua berasal dari Sibisa bernama Siboru
Nailing, turunan/"Pahompu ni" Nai Rasaon atau
puteri Datu Pejel/Tuan Sorbadijae, anaknya
adalah:
8 Tambunraja alias Siraja Tambun
(Tambun,Tambunan,Daulay)
Raja Oloan Raja Oloan mempunyai 6 (enam)
orang putera, yaitu:
1. Naibaho, yang merupakan cikal-bakal marga
Naibaho dan cabang-cabangnya
2. Sigodang Ulu, yang merupakan cikal-bakal marga
Sihotang dan cabang-cabangnya
3. Bakara, yang merupakan cikal-bakal marga
Bakara
4. Sinambela, yang merupakan cikal-bakal marga
Sinambela
5. Sihite, yang merupakan cikal-bakl marga Sihite
6. Manullang, yang merupakan cikal-bakal marga
Manullang
Raja Hutalima Raja Hutalima tidak mempunyai
keturunan
Raja Sumba Raja Sumba mempunyai 2 (dua)
orang putera, yaitu:
1. Simamora, yang merupakan cikal-bakal marga
Purba, Manalu, Simamora Debata Raja, dan
Rambe
2. Sihombing, yang merupakan cikal-akal marga
Silaban, Sihombing Lumban Toruan, Nababan,
dan Hutasoit
SILABAN(BORSAK JUNJUNGAN) 1.SILABAN
(BORSAK JUNGJUNGAN) 2.OP. RATUS 3.AMA
RATUS 4.OP.RAJADIOMAOMA 5.a. DATU BIRA
(SITIO); b. DATU MANGAMBE/MANGAMBIT
(SIPONJOT) c. DATU GULUAN
Raja Sobu Marga-marga keturunan Raja Sobu,
antara lain: Sitompul dan si Raja Hasibuan. Dari si
Raja Hasibuan berkembang lagi, yang tetap
tinggal di Toba tetap Hasibuan, sedang
"pomparan" Ompu Guru Mangaloksa yang
merintis hidupnya ke wilayah Silindung, anak-
anaknya berkembang menjadi si Raja Nabarat
(Hutabarat), si Raja Panggabean
(cabangnya,Simorangkir), si Raja Hutagalung dan
si Raja Hutatoruan. Si Raja Hutatoruan dua
anaknya, itulah Hutapea (Silindung/Tarutung,
beda dari Hutapea - Toba/Laguboti), dan
Lumbantobing (biasa disingkat L.
Tobing=Lumbantobing). Marga-marga tsb (diluar
marga Hasibuan), secara "specific" pomparan
Guru Mangaloksa dinamai "Pomparan ni si Opat
Pu(i)soran". Mana ejaan yang benar dalam bahasa
Batak, antara Pusoran atau Pisoran, entahlah.
Marga-marga tersebut diatas masih tetap alias
belum bercabang hingga sekarang. Kecuali
pencabangan untuk tujuan penyebutan internal,
semisal Hutabarat. Ada Hutabarat Sosunggulon,
Hutabarat Hapoltahan, Hutabarat Pohan. Dari
tataran ini barulah dibagi lagi menjadi "mar-
ompu-ompu". Sebagai catatan, khusus dari
pomparan Guru Mangaloksa, setiap anggota
marga-marga tersebut mengingat nomornya
masing-masing, termasuk Boru. Semisal di
Hutabarat, berkenalan seorang Hutabarat dengan
seorang lain Hutabarat. Tidak lagi ditanya,
Hutabarat Sosunggulon? atau Hapoltahan? atau
Pohan? dst. Tetapi langsung ditanya, "nomor
berapa"?, termasuk Boru. Sehingga masing-
masing tahu "standing position", memanggil
abang/adik, bapatua/bapauda, dst, termasuk
"tutur" untuk Boru. Hal seperti ini perlu dicontoh
karena dapat memotivasi orang lain mencari asal-
usul ("identitas") "ha-batahonna", tentu setelah
indentitas keyakinan dan kepercayaan masing-
masing individu.

Raja Naipospos Raja Naipospos mempunyai 5
(lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu:
1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga
Sibagariang
2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga
Hutauruk
3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal
margaSimanungkalit
4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal
margaSitumeang
5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga
Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor,
Marbun Lumban Gaol.

Padan atau janji
antar marga


Dalam suku bangsa Batak, selain marga yang
satu nenek moyang (satu marga) ditabukan untuk
saling kawin, dikenal juga padan (janji atau ikrar)
antar marga yang berbeda untuk tidak saling
kawin. Marga-marga tersebut sebenarnya
bukanlah satu nenek moyang lagi dalam rumpun
persatuan atau pun paradaton, tetapi marga-
marga tersebut telah diikat padan (janji atau ikrar)
agar keturunan mereka tidak saling kawin oleh
para nenek moyang pada zaman dahulu. Antar
marga yang diikat padan itu disebut dongan
padan.
Marga-marga yang mempunyai padan khusus
untuk tidak saling kawin, anatara lain:
1. Sihotang dengan Naipospos (Marbun)
2. Naibaho dengan Sihombing Lumban Toruan
3. Nainggolan dengan Siregar
4. Tampubolon dengan Silalahi
5. dan lain sebagainya.

Saya sendiri sebagai orang BARAT(batak rantau maksudnya hahahahah....)dituntut untuk mengetahui dan memahami tentang hal tsb. ini dimaksudkan agar saya tau di level mana saya berada (standing position).

2 komentar: